![]() ![]() ![]() |
Tuntutan Hadirnya Produk Alih Kode (Code-Switching)
sebagai Strategi Verbal Antarpenutur
Bilingual
di Indonesia dalam Bahan Ajar BIPA
Dr. Yayah B. Mugnisjah Lumintaintang
Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta
Abstrak
Makalah dengan judul tertera di atas bertujuan menyajikan pembahasan tentang metodologi pembelajaran BIPA, tepatnya yang berkaitan dengan penyusunan bahan ajarnya. Ini disebabkan oleh tuntutan situasi kebahasaan di Indonesia yang sangat majemuk, yang mengakibatkan adanya kontak bahasa, suatu kenyataan budaya yang dapat ditemukan di seluruh pelosok tanah air. Selain itu, kedudukan bahasa Indonesia yang istimewa (sebagai bahasa nasional dan sebagai bahasa negara) menimbulkan situasi kedwibahasaan (bilingualisme) di mana-mana. Kenyataan sosiolinguistik ini menuntut bahan ajar BIPA menyajikan berbagai produk bilingualisme, antara lain, pemakaian alih kode (code-switching) .
Alih kode merupakan istilah yang sangat umum dalam kajian sosiolinguistik, yaitu pemakaian dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa secara bergantian oleh penutur yang sama (yang dwibahasawan). Pemakaian alih kode ini bukanlah merupakan suatu kebetulan atau terjadi secara sembarang, dan bukan pula merupakan kekacauan pemakaian bahasa seperti banyak dikatakan orang, melainkan ditentukan oleh berbagai keadaan sosial dan situasional serta sarat dengan makna sosial. Dalam alih kode pemakaian dua (atau lebih) bahasa itu ditandai oleh kenyataan bahwa (1) masing-masing bahasa masih mendukung fungsi-fungsi tersendiri sesuai dengan konteksnya dan (2) fungsi masing-masing bahasa itu disesuaikan dengan situasi yang relevan dengan perubahan konteksnya.
Sebagai salah satu strategi verbal antarpenutur bilingual, Poedjosoedarmo (1975) memperlihatkan bahwa di Indonesia (khususnya dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia) alih kode terjadi, antara lain, karena (1) pembicara menyitir kalimat lain, (2) berubah-
nya lawan bicara, (3) pengaruh hadirnya
orang ketiga, (4) pengaruh maksud-maksud tertentu, (5) bersandiwara, (6)
pengaruh topik pembicaraan, (7) pengaruh kalimat yang mendahului, dan (8)
pengaruh situasi bicara. Taha (1985) memperlihatkan bahwa pada dwibahasawan
Bugis-Indonesia, ciri-ciri sosial interlokutor, tepatnya pendidikan dwibahasawan
serta kompetensi bahasanya, merupakan dua faktor yang sangat menentukan
frekuensi pemakaian alih kode dari bahasa Bugis ke bahasa Indonesia ; makin
tinggi tingkat pendidikan penutur, makin tinggi kecenderungan terhadap
pemakaian alih kode. Demikian pula, makin tinggi kompetensi penutur dwibahasawan
(balanced bilingual atau coordinate bilingual) makin tinggi
pula frekuensi pemakaian alih kode tersebut. Temuan Taha ini mengisyaratkan
bahwa tuntutan hadirnya produk alih kode pada bahan ajar BIPA hendaknya
ditujukan untuk pembelajar yang bukan tahap pemula, melainkan untuk tahap
yang sudah tinggi. Wujud linguistik alih kode yang lazim muncul itu adalah
(1) alih kode antarkalimat (intersentential code-switching),
(2) alih kode intraklaimat (intrasentential code-switching,, dan
(3) alih kode buntut kalimat. (tag code-switching).
Dengan pertimbangan bahwa seorang pembicara memiliki pilihan tentang apa yang harus dibicarakan dan bagaimana membicarakannya, penyajian contoh bahan ajar hendaknya difokuskan pada bentuk-bentuk bahasa yang di dalamnya mengandung produk alih kode yang reaslistis, wajar, dan berterima, di samping yang tidak realistis, tidak wajar, dan tidak berterima. Sehubungan dengan itu, rekomendasi Hymes (1972) dan Gumperz (1976), yang dioperasikan oleh Poedjosoedarmo (1975), Taha (1985), Soewito (1987), dan Lumintaintang (1990) di Indonesia, tentang beberapa varibel yang dianggap menentukan pemilihan bahasa (termasuk perilaku beralih kode) dapat dipakai untuk mewarnai penyusunan bahan ajar BIPA. Variabel yang dapat diprioritaskan sesuai dengan kebutuhan komunikasi, sekurang-kurangnya, adalah:
(3) topik pembicaraan, seperti tentang latar belakang pribadi;
(4) tujuan/fungsi-fungsi bahasa, seperti untuk komunikasi sehari-hari/bercakap-cakap santai, meminta bantuan, dan untuk membantah;
(5) medium lisan, yang searah seperti mendengarkan
sambutan/pidato dan yang tidak searah, seperti bertelepon; medium tulisan
yang searah seperti teks wacana dari surat kabar dan yang dua arah seperti
surat pribadi.
For more information, please contact:
Kipbipa Secretariat
IALF Bali
Jalan Kapten Agung 17
Denpasar
Bali 80232
Indonesia
|
fax +62 361 263509 kipbipa@ialfbali.co.id |
![]() |