Cerita Lucu Sebagai Alternatif Bahan Pengajaran

Tri Budhi Sastrio

Universitas Dr. Soetomo, Surabaya

Abstrak


Berbicara adalah salah satu aspek penguasaan keterampilan berbahasa yang paling banyak diburu dan paling ingin dikuasai oleh mereka yang sedang belajar bahasa asing. Meskipun berbicara mungkin bukan merupakan aspek penguasaan yang paling sulit untuk diperoleh dan dikuasai, tetapi menempatkan keterampilan yang satu ini pada peringkat kedua berdasarkan faktor kesulitannya, setelah aspek mendengarkan dan memahamai, mungkin tidak terlalu berlebihan.

Maka dari itu adalah juga tidak terlalu berlebihan jika materi pengajaran mata ajar berbicara dalam proses pembelajaan bahasa asing perlu untuk terus menerus ditingkatkan kualitasnya dan diragamkan jenis serta sumbernya. Salah satu cara meningkatkan keragaman dan variasi mata ajar keterampilan ini adalah pemakaian cerita pendek yang benar-benar sangat pendek dan lucu.

Dalam makalah singkat yang dipersiapkan untuk mendemonstrasikan bagaimana menggunakan sumber materi bagi mata ajar keterampilan berbicara ini, dua cerita pendek lucu yang sangat pendek, sengaja dipilih. Yang pertama berjudul Burung Yang Bisa Berbicara dan yang kedua adalah Pengawas Lalu Lintas Kereta Api.

Adapun tata urutan pengajarannya adalah seperti berikut:

  1. Pada sekelompok siswa/mahasiswa asing/pembelajar (yang sedang mempelajari bahasa asing, dalam hal ini adalah bahasa Indonesia) diinformasikan bahwa guru/dosen/instruktur/pengajar akan menyampaikan sebuah cerita yang sangat pendek sebanyak dua kali. Mereka tidak diperkenankan menulis atau mencatat. Mereka hanya diperkenankan mendengarkan.
  2. Setelah cerita diulang dua kali, pengajar membei kesempatan pada pembelajar untuk berlatih selama sepuluh atau lima belas menit. Karena kelas ini adalah kelas berbicara, maka pembelajar diorong (atau boleh juga sedikit dipaksa) membuat kelas menjadi kelas yang ribut karena suara mereka yang sedang berlatih. Mereka boleh saling membantu dan bertukar informasi. Mereka juga perlu diingatkan bahwa bahasa yang dipelajari adalah bukan bahasa kebatinan, yaitu bahasa yang cukup dipelajari dalam batin atau dalam hati saja, maka dari itu mereka harus didorong dan dipaksa untuk membuka mulut, mengeluarkan suara, dan berlatih berbicara dengan suara keras.
  3. Setelah waktu latihan dianggap cukup, satu persatu pembelajar maju ke depan dan menceritakan kembali versi cerita yang didengar, cerita yang mereka pahami. Pengajar membuat catatan kesalahan termasuk kesalahan pelafalan, kesalahan tata bahasa, kesalahan penggunaan kata, dsb.
  4. Setelah seluruh pembelajar selesai mempresentasikan bahan cerita di depan kelas, berdasarkan catatan yang telah dibuat, pengajar harus mendiskusikan kembali kesalahan yang dibuat, memberikan solusi dan alternatif, dan memberikan kesempatan pada satu atau dua pembelajar yang paling banyak membuat kesalahan untuk mempresentasikan kembali versi cerita yang lebih dapat diterima.
Biodata:
 


Return to Abstracts


Conference Program Abstracts Call for Presentations Conference Rationale
Conference Registration Hotel Accommodation Homepage

 
Jadwal Conperensi Abstrak Penyajian Makalah Keterangan Konperensi
Pendaftaran Konperensi Akomodasi / Hotel Homepage

For more information, please contact:

Kipbipa Secretariat
IALF Bali
Jalan Kapten Agung 17
Denpasar
Bali 80232
Indonesia

tel  +62 361 225243 / 221782 / 221783
fax  +62 361 263509
kipbipa@ialfbali.co.id

www.ialf.edu/kipbipa/