![]() ![]() ![]() |
Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Diskusi
A.M. Slamet Soewandi
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
Abstrak
Ada berbagai bentuk pembelajaran. Salah satunya adalah bentuk diskusi. Menurut pengalaman, belajar bahasa Indonesia dengan bentuk diskusi memiliki beberapa keuntungan. Empat di anatarnya adalah sebagai berikut. Pertama, dengan diskusi, memang materi bahasa bagi pembelajar "tidak" menjadi fokus perhatian mereka. (Materi bahasa menjadi fokus perhatian pada waktu membuat makalahnya). Yang menjadi fokusnya justru bagaimana pembelajar mengemukakan pendapatnya dengan logika, data, dan gagasannya. Bagi pembelajar tingkat lanjut (advanced) , kemampuan berbahasa "sudah" mereka miliki. Jadi, rasa takut salah dalam berbahasa dapat dihindari. Kedua, dengan diskusi, pembelajar "dipaksa" untuk mengemukakan gagasannya. Keterpaksaan untuk mengemukakan pendapat itu justru mendorong pembelajar - tanpa "takut" salah dalam berbahasa - dengan sekuat tenaga dan sebanyak yang dimiliki untuk digunakan, pada waktu menjadi pemakalah, atau pembahas, pemandu, atau notulis. Ketiga, semua keterampilan - mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis - dipelajari. Keempat, bagi pembelajar lanjut, yang pada umumnya adalah mereka yang duduk di perguruan tinggi, karena terjadinya transfer of learning, apa yang pernah diperolehnya - dalam hal ini penguasaan tentang aturan-aturan membuat makalah, dan sebagainya – dengan mudah dapat dimanfaatkan.
Dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa, tentu saja, penekanan pembelajaran pertama-tama, bukan pada kemampuan menjadi pemakalah (menemukan topik, mencari sumber, dan sebagainya), atau pembahas, atau pemandu (mengatur lalu lintas diskusi, dan sebagainya), melainkan bagaimana alat yang berupa bahasa itu dipergunakan. Karena itu, instruktur (guru) harus merekam penggunaan bahasanya, yang mencakup: pemilihan, penulisan, dan pemakaian bentuk kata, pengucapan kata dan kalimat, penyusunan kata menjadi kalimat, dan menjadi paragraf. Unsur sosiolinguistik dan pragmatik penggunaan bahasa memang perlu diperhatikan.
Dua hal perlu diperhatikan. Kesalahan berbahasa yang mengakibatkan terjadinya salah tafsir seyogyanya dibicarakan sebagai balikan. Ksalahan-kesalahan berbahasa yang lain, dapat dibicarakan sejauh itu relevan, misalnya, relevan dengan register bahasa yang sedang dibicarakan.
Biodata:
A.M. Slamet Soewandi Lahir di Klaten, Jawa Tengah, 5 Juni 1941. Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia (1971) dan Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris (1981) dari IKIP Sanata Dharma, Magister pendidikan Bahasa (1984) dan Doktor Pendidikan Bahasa (1989) dari IKIP Malang. Mengikuti Sandwich program di State University of New York at Albany (1985/1986), mengikuti Trend of Language Testing Course di RELC, Singapore (1990), mengajar bahasa Indonesia dan Jawa di SEASSI program, University of Wshington, Seattle (1993).
For more information, please contact:
Kipbipa Secretariat
IALF Bali
Jalan Kapten Agung 17
Denpasar
Bali 80232
Indonesia
|
fax +62 361 263509 kipbipa@ialfbali.co.id |
![]() |