![]() ![]() ![]() |
Aspek Budaya dalam Pengajaran Tata Bahasa
Indonesia
sebagai Bahasa Asing
Sally Pattinasarany
BIPA FS UI, Jakarta
Abstrak
Banyk orang akan "merinding" ketika mereka mendengar kata ‘tata bahasa’. Pada umumnya, orang akan langsung berpikir mengenai kaidah-kaidah yang kaku dan sulit untuk diterangkan jika mereka mendengar kata tersebut. Memang, pengajaran tata bahasa merupakan pelajaran yang paling daitakuti, baik oleh pengajar maupun mahasiswa.
Akan tetapi, apakah tata bahasa hanyalah merupakan kumpulan kaidah yang kaku? Apakah benar tata bahasa merupakan ‘mahluk’ yang menakutkan? Apakah pengajaran tata bahasa dapat dibuat menarik dengan memasukkan unsur budaya?
Makalah ini akanmenampilkan unsur budaya dalam pengajaran tata bahasa sehingga pelajaran ini akan lebih menarik dan siswa akan mempelajari tata bahasa dengan lebih santai.
Sebagai contoh adalah bentuk kalimat pasif.
Untuk orang asing, bentuk seperti dilarang merokok merupakan sulit
dimengerti. Pada saat kita mengajarakan bentuk ini, kita harus menjelaskan
bahwa dalam budaya Indonesia, pelaku perbuatan tidak perlu ditonkolkan
dan bahwa bentuk ini merupakan kalimat perintah yang sopan.
Biodata:
Sally Pattinasarany lulus dari Gesampthochschule
Kassel tahun 1990. Mulai mengajar di BIPA FSUI tahun 1992. Bidang pengkhususan
di BIPA FSUI adalah pengajaran membaca dan tata bahasa. Tahun 1991--1996
menjabat sebagai Wakil Koordinator BIPA FSUI. Pada tahun 1995 ikut menyiapkan
bahan membaca Jendela Indonesia di BIPA FSUI.
For more information, please contact:
Kipbipa Secretariat
IALF Bali
Jalan Kapten Agung 17
Denpasar
Bali 80232
Indonesia
|
fax +62 361 263509 kipbipa@ialfbali.co.id |
![]() |