![]() ![]() ![]() |
Dra. Marjam Budhisetiawan M.Psi
National University of Singapore
Abstrak
Bahasa adalah kemampuan yang unik dan spesifik pada manusia. Tidak ada perbedaan pendekatan antara bagaimana bayi belajar bahasa dengan orang dewasa atau anak terbelakang mental, dan tunarungu sekalipun. Fakta bahwa bahasa itu dipelajari melalui seorang ibu yang secara terus menerus berbicara pada bayinya dapat ditemui dalam setiap kebudayaan. Melalui ibu yang menstimulasi "pendengaran" bayi dan "merangsangkesadaran pancainderanya", bahasa berkembang.
Belajar bahasa menyangkut fungsi belahan otak sebelah kiri. Agar belajar bahasa mencapai tingkat yang optimal maka kedua belahan otak harus dirangsang. Dalam penelitian ini, penulis ingin mendayagunakan fungsi belahan otak kanan dalam belajar bahasa.
Penelitian dilakukan pada mahasiswa "National University of Singapore" menggunakan pendekatan berdasarkan teori di atas. Pendekatan ini dirasa lebih wajar karena tidak memaksa mereka untuk berbicara dalam bahasa target, sebelum mereka siap, namun memberikan lingkungan yang kondusif sebagai "perlengkapan" untuk kelak berbahasa Indonesia. Mahasiswa hanya diharapkan "mendengar dan memperagakan". Dari dasar pemahaman pasif yang kuat ini, diharapkan mahasiswa secara otomatis bisa berbahasa Indonesia.
Dari masukan mahasiswa, metode ini ternyata
sangat menarik dan tidak memberikan ketegangan. Mereka aktif "memperagakan"
dan interaksinya lebih "hidup". Hasilnya dalam berbahasa menunjukkan beberapa
hal positif.
Biodata:
Budhisetiawan, Marjam lulus Psikologi dari Universitas Indonesia dan S2 Psikologi Pendidikan juga dari UI. Bekerja sebagai psikolog di BPK Jabar, Associate Psikolog di Lembaga Psikologi Terapan UI, Lembaga Management UI, lalu sebagai staf pengajar Psikologi Pendidikan UI. Pindah ke Singapura dan menjadi instruktur bahasa di NUS.
For more information, please contact:
Kipbipa Secretariat
IALF Bali
Jalan Kapten Agung 17
Denpasar
Bali 80232
Indonesia
|
fax +62 361 263509 kipbipa@ialfbali.co.id |
![]() |