Kejutan Pembelajar Asing
Menggunakan Kata Berafiks dalam Bahasa Indonesia:
Kasus Kata Berafiks Ber- Dan Meng-(Kan)

I Made Madia

Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Denpasar

Abstrak

Pembelajar asing yang dilatarbelakangi oleh penguasaan bahasa ibu yang nonaglutinatif akan memperoleh kejutan  ketika mulai belajar bahasa Indonesia. Istilah kejutan yang dipakai dalam tulisan ini mengacu pada konsep ’segala yang menimbulkan kekagetan/guncangan akibat dari pengalaman baru’.  Kejutan yang cukup menonjol bagi pembelajar asing itu adalah dalam hal penggunaan afiks.

Pembelajar asing yang baru belajar bahasa Indonesia akan cukup kaget melihat beberapa kata yang sangat mirip (karena menggunakan kata dasar yang sama) seperti bertemu, menemukan, menemui, mempertemukan, pertemuan, penemuan, penemu, temuan, temui, temukan, dan ketemu. Setelah pembelajar asing mengenal bahwa kata-kata bentukan seperti itu terdiri atas kata dasar  dan afiks, biasanya pembelajar asing bereksperimen dengan membuat bentukan lain. Hasil eksperimen pembelajar asing akan menghasilkan kata berafiks dengan dua kecenderungan ekstrem: berterima atau takberterima. Kata berafiks yang berterima akan menimbulkan kejutan positif dan kata berafiks yang takberterima akan menimbulkan kejutan negatif.

Kata berafiks dengan kejutan positif adalah kata berafiks yang memenuhi kelayakan gramatikal, semantis, dan pragmatis. Misalnya, dengan mengacu contoh ber- yang berarti ‘memiliki/ada’ seperti pada kata beristri, pembelajar akan bereksperimen membuat kata berafiks bersuami, beruang, dan berkumis.

Kata berafiks dengan kejutan negatif adalah kata berafiks yang tidak memenuhi salah satu, dua, atau tiga kelayakan yang disebutkan di atas. Kata berafiks jenis ini dapat dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, kata berafiks yang tidak memenuhi kelayakan gramatikal, semantis, dan pragmatis. Misalnya, kata berafiks *menemuan, *berjalani, dan *keinginkan. Kedua, kata berafiks yang memenuhi kelayakan gramatikal, tetapi tidak memiliki kelayakan semantis dan pragmatis. Misalnya, dengan menganalogi kata berjalan (ber-+verba), pembelajar asing akan bereksperimen membuat kata berafiks dengan pola ber-+verba dan menghasilkan kata berafiks ?*berpukul, ?*berpinjam, dan ?*berbeli. Ketiga, kata berafiks yang memenuhi kelayakan gramatikal dan semantis, tetapi tidak memiliki kelayakan pragmatis. Misalnya, dengan menganalogi kata bersepeda (ber- ’memakai’ atau ’mengendarai’+(nomina) sepeda), pembelajar asing akan bereksperimen dengan menghasilkan kata berafiks ?bertaksi, ?berbemo, atau ?berbus.

Berkenaan dengan ketiga jenis kejutan negatif yang dikemukakan di atas, bagaimana guru harus menyikapi? Guru hendaknya tidak “terburu-buru” menggenaralisasi bentuk-bentuk yang takberterima sebagai bentuk yang salah, tetapi guru harus berusaha memberikan alasan mengapa bentuk-bentuk itu takberterima.
 

Biodata:

I Made Madia lahir 1 Juli 1958 di Denpasar. Menyelesaikan studi S-1 di Fakultas Sastra, Universitas Udayana Jurusan Sastra Indonesia tahun 1982 dengan bidang keahlian linguistik. Menyelesaikan studi S-2 (magister) di Universitas Indonesia tahun 1993 dengan bidang keahlian lingusitik. Sejak tahun 1983 menjadi dosen tetap di Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Mulai tahun 1998 ikut menjadi tim pengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing.
 


Return to Abstracts


Conference Program Abstracts Call for Presentations Conference Rationale
Conference Registration Hotel Accommodation Homepage

 
Jadwal Conperensi Abstrak Penyajian Makalah Keterangan Konperensi
Pendaftaran Konperensi Akomodasi / Hotel Homepage

For more information, please contact:

Kipbipa Secretariat
IALF Bali
Jalan Kapten Agung 17
Denpasar
Bali 80232
Indonesia

tel  +62 361 225243 / 221782 / 221783
fax  +62 361 263509
kipbipa@ialfbali.co.id

www.ialf.edu/kipbipa/