|
Nyoman Riasa
|
| Latar belakang masalah
Kesulitan yang dialami siswa dalam memahami suatu pokok bahasa sering diakibatkan karena kegagalan guru menentukan sistematika bahan ajar. Guru memberikan bahan ajar dengan urutan yang tidak baik sehingga membingungkan siswa. Khusus dalam pengajaran imbuhan meN- aspek-aspek developmental sering tidak diperhatikan. Guru juga tidak menentukan skala prioritas. Akibat dari semuanya ini siswa tidak memahami hubungan logis antara satu bahasan sebelumnya dengan bahasan berikutnya. Sebagai salah satu imbuhan yang paling produktif, penggunaan imbuhan meN- secara tepat sangat penting untuk dikuasai oleh siswa. Penguasaan aturan tentang proses morfofonemik (Fromkin et al, 1984: 132-136) sangat membantu siswa yang mulai belajar membaca (Tingkat Dasar). Bagi siswa Tingkat Terampil (Intermediate) sampai dengan Mahir (Advanced) keterampilan ini akan sangat bermanfaat jika mereka hendak berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia baku. Minimnya buku-buku bermutu untuk pengajaran BIPA di tanah air menyulitkan guru untuk menemukan referensi yang siap pakai. Buku tata bahasa Indonesia yang beredar di masyarakat tidak ditulis berdasarkan konsep pengajaran dan pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing. Sebaliknya, buku itu ditulis atas dasar konsep dan pengalaman belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu atau bahasa kedua. Akibatnya, guru pemula tidak bisa menemukan sistematika yang jelas yang bisa digunakan sebagai pedoman untuk mengajarkan imbuhan meN- ini. Imbuhan meN- banyak digunakan dalam kalimat pernyataan aktif, dalam situasi formal, naskah resmi, surat kabar, majalah, dll. Kita sadar memang bahwa dalam komunikasi sehari-hari imbuhan ini tidak dimunculkan oleh pembicara. Orang Indonesia lebih sering berkata, "Saya mau beli nasi, Bu" daripada "Saya mau membeli nasi, Bu". Sistematika pengajaran imbuhan meN- Sistematika pengajaran imbuhan meN-(kan/i) harus dimulai dengan penguasaan proses morfofonemik imbuhan ini. Hal ini meliputi pengajaran proses nasalisasi yang berkaitan dengan bunyi pertama pada kata dasar (KD) yang mendapatkan imbuhan ini. Proses nasalisasi ini dapat dirangkum sebagai berikut. 1. Penambahan bunyi
2. Perubahan bunyi
Untuk sejumlah kata-kata serapan (terutama dari bahasa Inggris) kaidah-kaidah di atas mungkin tidak berlaku. Contoh: KD Turunan dengan meN-
3. Tidak ada perubahan
Bentuk morfologis kata-kata yang mendapat penambahan imbuhan meN-dapat dikategorikan menjadi 3 golongan kata: (i) yang mendapatkan imbuhan meN-; (ii) yang mendapatkan ibuhan meN - kan; dan (iii) yang mendapatkan imbuhan meN-i. Kategori (iv) bisa digolongkan perkecualian yaitu kata-kata yang tidak mendapatkan imbuhan meN- dan yang hanya mendapatkan meN-i. (i) meN-Yang tergolong dalam kelompok ini adalah hampir semua kata dasar (KD) kata kerja (verba) transitif.Contoh:
(ii) meN - kanTermasuk dalam kelompok ini adalah hampir semua KD kata sifat.Contoh:
(iii). meN - iKelompok ini meliputi hampir semua KD kata benda (nomina).Contoh:
Dengan memperkenalkan contoh-contoh seperti di atas, siswa akan memiliki rumusan sementara mengenai ketentuan penambahan imbuhan meN- saja, meN-kan, dan meN-i. Untuk semen tara kita biarkan siswa membuat kesimpulan sendiri sesuai dengan contoh di atas. Pembagian seperti di atas menyiratkan bahwa kategori (i) bisa diajarkan pada Tingkat Pemula dan Dasar (Beginner dan Elementary). Pada tingkat ini fokus pengajaran adalah proses morfofonemik imbuhan me-N. Sebaiknya, mereka tidak diajarkan bentuk meN-kan maupun meN-i mengingat keterbatasan penguasaan kosakata mereka. Kategori (ii) dan (iii) dapat diajarkan pada Tingkat Terampil (Pre-Intermediate atau Intermediate). Pada tingkat ini biasanya siswa sudah mulai lebih kritis karena pengetahuan kosakata dan tata bahasa sudah cukup tinggi. Siswa yang sudah berada pada tingkat ini sudah menguasai kategori (i) sebaiknya diajarkan sebagai revisi saja misalnya dengan kuis atau permainan yang sesuai. (iv) Perkecualian1. ØmeN -.Siswa perlu diingatkan bahwa ada sejumlah kata kerja yang tidak pernah menggunakan imbuhan meN- seperti kata makan, minum, pergi, tidur, dan duduk. Jika imbuhan meN- ditambahkan pada kata-kata ini, bentuk turunan tidak akan mempunyai arti atau memberikan tambahan makna.Contoh:
Kata 'memakan' dan 'meminum' kadang-kadang dipakai untuk menunjukkan emosi (rasa jengkel atau marah). Kata 'memakan' dan 'meminum' sering dipakai untuk menunjukkan perilaku binatang. Oleh karena itu, jika digunakan untuk menerangkan perilaku manusia kedua kata ini memiliki makna negatif. Kata-kata turunan dengan tanda *) menunjukkan bahwa bentuk tersebut itu tidak dikenal dalam bahasa Indonesia. Kasus ini juga merupakan penyimpangan atau pengecualian. Uraian ini bisa digunakan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang sering diajukan oleh siswa BIPA, "Mengapa kata-kata tersebut tidak boleh menggunakan imbuhan meN-?". 2. Verba punya.. Punya. tergolong kata kerja yang cukup unik. Dalam berbagai susunan kalimat kata ini memenuhi unsur-unsur kata kerja intransitif. Tidak seperti kata kerja transitif yang lain, 'punya' tidak memiliki bentuk turunan meN- atau meN-kan. Yang lebih unik lagi adalalah bunyi 'p' awalnya tidak luluh jika mendapat tambahan imbuhan meN-. Satu-satunya bentuk turunan aktif yang dimiliki 'punya' adalah 'mempunyai'. Bandingkan dengan contoh verba turunan di bawah ini.
Membandingkan imbuhan gabung1. meN-kan vs. meN-iSiswa BIPA juga sering bertanya tentang kata kerja yang menggunakan imbuhan meN-kan dan meN-i yang dibentuk dari KD (verba dan sifat) yang sama, misalnya menaiki vs. menaikkan; menjauhi vs. menjauhkan; dan mendekati vs. mendekatkan. Banyak waktu yang dihabiskan guru untuk menjelaskan dan fungsi imbuhan tersebut dalam contoh di atas. Penjelasan yang sering diberikan adalah seperti contoh berikut, meN-i menunjukkan pergerakan subjek kalimat, sedang meN-kan pergerakan objek kalimat.1. a. Anak nakal itu menaiki tiang bendera. b. Anak itu menaikkan bendera. 2. a. Kamu harus menjauhi ular berbisa itu. b. Kamu harus menjauhkan ular itu dari sini. Cara yang lebih praktis untuk menjelaskan perbedaan makna meN-i dan meN-kan adalah dengan menggunakan gambar. Dengan gambar-gambar ini saya yakin siswa akan mampu memahami konsep di atas dengan lebih mudah. Dengan keempat gambar di bawah ini tidak akan sulit bagi siswa untuk
memahami konsep 'perpindahan' atau 'pergerakan' subjek dan objek kalimat.
2. meN- vs. meN - kanVerba transitif biasanya dapat memiliki bentuk meN-; dan meN-kan. Perbedaannya adalah bentuk meN- tidak memberi indikasi untuk siapa suatu pekerjaan dilakukan. Sedangkan bentuk meN-kan menunjukkan adanya makna benefektif (Sneddon, 1988: 80-81).Contoh: 1. Ia mengambil kunci mobil.Kalimat nomor 2 di atas bisa diubah menjadi, "Ia mengambil kunci mobil untuk ayahnya". Kasus meN- dan meN-kan juga banyak terjadi pada KD kata sifat. Karena kelas KD-nya berbeda, kita tidak bisa menggunakan analisis sederhana di atas. Seperti biasa, guru harus mengajak siswa untuk memahami makna kata
atau imbuhan pada struktur yang lebih tinggi. Beberapa KD kata sifat yang
tergolong dalam kategori ini adalah sbb.
Makna tambahan yang dtimbulkan oleh penambahan imbuhan pada tiap KD di atas adalah 'proses menjadi seperti KD'. Masalahnya adalah, jika maknanya sama, lalu mengapa ada dua bentuk yang berbeda? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita lihat penggunaannya dalam kalimat. 2. Kondisi politik Timtim kini memanas lagi. 3. Sejak bulan lalu perut Ibu Lusi tampak mengecil. 4. Setelah berumur 2 bulan, padi itu pun menguning. Sebagai perbandingan perhatikan contoh berikut ini. Subjek dalam tiap kalimat secara aktif melakukan aktivitas untuk menghasilkan kondisi seperti yang dinyatakan KD. Contoh: 1. Semua aparat sibuk mendinginkan gejolak di Ambon. KesimpulanSistematika pengajaran imbuhan meN-harus dimulai dengan pengenalan dan pemahaman proses morfofonemik pada tingkat pemula. Kombinasi awalan meN- dengan akhiran kan/i sebaiknya diajarkan pada tingkat yang lebih tinggi (Pre Intermediate) sedangkan siswa pada tingkat Intermediate ke atas sudah siap untuk mempelajari perbandingan antara meN-kan dan meN-i.Guru harus mulai mengajarkan bentuk yang paling sederhana (meN + KD Verba) dilanjutkan dengan konstruksi yang lebih sulit (meN + KD Sifat + kan dan meN + KD Nomina + i). Siswa harus disadarkan bahwa tiap perubahan struktur morfologis akan membawa konsekuensi perubahan (penambahan atau pengurangan) makna. Siswa juga harus dibiasakan untuk tidak menerima tiap kaidah secara absolut. Mereka harus selalu bersedia melakukan revisi terhadap aturan tata bahasa yang telah dipelajari. Referensi:Moeliono, Anton dan Soenjono Dardjowidjojo, ed. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Depdikbud Prum Balai Pustaka. Jakarta. Sneddon, James. 1996. Indonesian Reference Grammar. Allen & Unwin. Sydney. |