Komponen Budaya dalam Pengajaran BIPA

M. Bundhowi
IALF Bali


 

 
Benjamin Lee Worf, lewat Worfian Hypothesis-nya, menyaripatikan bahwa bahasa sangat ditentukan oleh lingkungan dan pemikiran tempat si pengguna bahasa itu berada. Pengajaran BIPA tentunya juga, kalau menganggap hipotesis di atas relevan, tidak bisa menepiskan konteks budaya Indonesia. Namun, pembahasan budaya dalam BIPA belum mendapat tempat yang strategis. Dalam tulisan ini, masalah komponen budaya dalam BIPA sengaja diketengahkan untuk memicu pembahasan lebih lanjut.

Salah satu bagian yang dianggap selalu terlupakan dalam pengajaran BIPA adalah komponen budaya Indonesia. Pembelajar BIPA sering mengalami benturan budaya ketika mereka masuk ke dalam situasi budaya ini. Tentu saja ini lumrah, bahkan sering dianggap perlu bagi pembelajar dalam upaya mereka untuk menguasai bahasa Indonesia.

Saya setuju bahwa akan sulit untuk membuat definisi budaya Indonesia karena, dalam konteks ini, ada yang beranggapan bahwa budaya Indonesia itu tidak ada. Yang ada adalah budaya masing-masing suku di Indonesia. Namun marilah kita tidak usah susah payah mendefinisikan budaya Indonesia ini. Yang kita lihat di sini adalah jalan pemikiran serta praktik tata cara hidup orang-orang di Indonesia yang akhirnya membentuk terminologi 'budaya Indonesia'.

Saya juga berpendapat bahwa budaya itu tidak dapat diajarkan. Lantas mengapa kita perlu membahas komponen budaya dalam pengajaran BIPA? Jawabnya singkat: kita tidak berupaya mengajarkan budaya, namun menanamkan kesadaran budaya Indonesia: segala sesuatu yang berkenaan dengan Indonesia.

Komponen Budaya

Kesadaran pembelajar BIPA tentang budaya Indonesia akan sangat membantu pembelajar dalam mengaktualisasikan diri mereka secara tepat di dalam bahasa Indonesia. Salah satu contoh klasik yang sangat sering dipakai adalah pertanyaan-pertanyaan: mau kemana?, dari mana?, anaknya berapa?, gajinya berapa?, sudah menikah?, kok belum menikah? dsb. yang sering menyebabkan pembelajar terheran-heran dengan keingintahuan orang Indonesia terhadap urusan orang lain.

Lebih lanjut ungkapan-ungkapan di bawah ini dianggap melampaui batas kewajaran: wah gemuk sekali dan anaknya lucu ya. yang berati positif di Indonesia namun memuat konotasi negatif dalam konsep budaya barat. Pertanyaan-pertanyaan pada kelompok pertama dan ungkapan-ungkapan pujian pada kelompok kedua tentu saja harus dipahami sebagai komponen fungsi bahasa yang harus dijelaskan dalam konteks budaya dan tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa si pembelajar begitu saja.

Seringnya ditemui keluhan tentang betapa inginnya orang Indonesia mencampuri urusan orang lain (intervene), dalam konteks komunikasi menggunakan bahasa Indonesia, menunjukkan betapa minimnya pembahasan komponen budaya dalam BIPA. Dalam hal di atas, seperti yang tersirat dalam pertanyaan dan ungkapan pujian, komponen budaya bisa dikenalkan kepada murid, paling tidak sebagai catatatan budaya, di mana guru bisa menyinggung masalah ini bahkan pada hari pertama pelajaran BIPA dimulai, misalnya lewat topik greeting atau memberi salam.

Silabus dan kurikulum BIPA per lu mencantumkan komponen budaya ini sebagai pelengkap pengajaran BIPA. Dan, pada sisi lain pengajar juga harus memiliki pengetahuan tentang budaya Indonesia.

Komponen Budaya Indonesia

Apa yang mau diajarkan lewat komponen budaya tergantung bukan saja pada kurikulum dan silabus BIPA yang diciptakan/diadopsi oleh pengajar. Komponen itu harus mengacu pada kepentingan siswa dalam mempelajari bahasa Indonesia. Ada beberapa hal yang bisa dicermati di sini bahwa kesadaran tentang budaya Indonesia ini bukan hanya melingkupi apa yang kasat mata (tarian, drama, adat istiadat, praktek-praktek keagamaan), namun hal tersebut juga melingkupi permasalahan yang tak terhingga banyaknya, misalnya konsep menghormati yang lebih tua, konsep kekeluargaan, memberi dan menerima pujian, meminta maaf, keterusterangan, kritik dan sebagainya yang semuanya bisa dibahas dengan cara menyisipkannya ke dalam catatan budaya dalam pelajaran bahasa. Dalam konteks yang lebih luas konsep tentang HAM, agama, dosa dan pahala, bahasa tubuh dsb. memerlukan pembahasan yang lebih luas. Dan hal tersebut biasanya dijelaskan tersendiri (tidak bisa disisipkan dalam catatan budaya saja). Dalam hal ini komponen yang akan diajarkan/dibahas dipilih sesuai kebutuhan.

Dalam tulisan ini, saya membagi pengajaran komponen budaya ke dalam 4 bagian. (Semuanya sudah diajarkan di IALF Bali).

1. Pengetahuan tentang Indonesia

Geografi, sistem pemerintahan, sejarah ringkas, agama dan tradisi bisa diberikan dengan kuliah singkat atau seminar. Bagian ini terbuka bagi pembelajar dari segala tingkat. Pengajar dan staf pengembangan kurikulum/silabus harus menentukan urutan serta lamanya waktu bagi pengajaran tentang pengetahuan tentang Indonesia ini. Komponen ini nampaknya kering, namun dengan teknik pengajaran yang kreatif materi-materinya dapat disajikan dengan cara yang sangat menarik, misalnya dengan cara fun research (riset dengan permainan). Dalam kegiatan ini siswa berkompetisi untuk mengadakan riset kepustakaan tentang Indonesia dalam waktu yang ditentukan (1-2 jam). Setelah mengadakan studi ringkas di perpustakaan, secara berkelompok siswa menulis laporan dalam bahasa Indonesia sesuai dengan tingkat bahasa yang sedang dipelajari. Dalam hal ini, tugas pengajar adalah memberikan pertanyaan-pertanyaan khusus mengenai materi-materi di atas. Pengajaran pengetahuan tentang Indonesia bisa dilakukan dengan cara yang sangat menarik, di mana siswa secara tidak sadar menggunakan bahasa yang mereka pelajari.

2. Catatan budaya

Pada bagian ini komponen budaya biasanya menjadi catatan budaya dalam pengajaran bahasa. Namun dengan ekpoitasi lebih lanjut, hal ini bisa diajarkan dengan cara yang menarik. Materi yang dicakup biasanya dibuat berjenjang, mulai dari yang mudah (mis. memberi salam) sampai dengan yang lebih sulit (mis. membuat janji). Komponen budaya yang berkenaan dengan masalah practicalities (tata cara) bisa dimasukkan dalam kegiatan bahasa.

Tabel di bawah ini memberikan contoh beberapa komponen budaya yang perlu segera diketahui siswa.
 

Topik
Catatan Budaya
Problem
Memberi salam Masalah Pribadi

(Privasi)

Salah pengertian mencampuri urusan orang lain
Perkenalan Kita ganti nama (term of address)/konsep hormat pada orang yang lebih tua dan hubungan sosial Salah pengertian tentang tata cara memanggil
Membuat janji Konsep tentang waktu jam karet Salah waktu/Ingkar janji

Pada tabel berikut dapat kita lihat beberapa aspek budaya praktis yang sangat perlu diketahui dan (kalau bisa) dapat dilakukan oleh siswa. Ada banyak hal yang bisa dimasukkan ke dalam aspek practicalities (tata cara) seperti Do's and Don'ts.
 

Topik
Catatan Budaya
Problem
Mandi Konsep tentang kebersihan/Mandi ala Indonesia dan ala Barat Kamar mandi (basah dan kering) Sudah mandi?
WC WC duduk/WC jongkok Darurat/BYTOP (Bring your own toilet paper), dsb.
Makan Peralatan, waktu, tempat, menawarkan dan basa-basi  

3. Diskusi Budaya

Komponen ini biasanya diberikan kepada siswa BIPA Tingkat Terampil ke atas. Bahasa yang digunakan sepenuhnya bahasa Indonesia. Pelajaran bahasa Indonesia bukan lagi difokuskan pada pelatihan tata bahasa, namun sudah mengarah kepada isi, rasa serta konteks yang lebih luas. Di sini dibicarakan gaya bahasa, makna konotasi kata, yang memerlukan interpretasi dan penalaran budaya dalam bahasa Indonesia.

Materi otentik dapat diambil dari surat kabar, rekaman berita televisi tentang kejadian di Indonesia, program radio, serta kunjungan ke berbagai tempat. Dengan demikian bahasa Indonesia digunakan dalam suatu proses komunikasi seperti dalam kegiatan ceramah, kuliah, khotbah), telaah bahasa (koran, laporan akademis, sastra, majalah dsb.), risensi buku (laporan resmi). Perbandingan budaya (budaya siswa dan Indonesia) merupakan hal cukup menarik untuk dibahas dalam konteks ini.

4. Riset Budaya

Kegiatan riset lebih baik dilakukan oleh siswa BIPA pada Tingkat yang lebih tinggi ini untuk memperdalam bahasa Indonesianya dalam content (isi) bahasa, siswa mengadakan riset yang berkenaan dengan budaya dalam cakupan yang luas: budaya politik, peran budaya dalam HAM dan demokrasi, perbandingan budaya Indonesia dengan budaya siswa, dan sikap budaya. Siswa ditugaskan, misalnya, menulis makalah tentang hal yang berkaitan dengan budaya Indonesia. Keterampilan sasaran yang ingin dicapai lewat pemberian tugas ini di antaranya adalah: pemahaman wacana ujaran dan tulis, penyampaian gagasan dalam ranah formal-akademis, kegiatan penelitian, dan penyampaian makalah dalam forum ilmiah.

Berikut adalah contoh rancangan silabus untuk melakukan riset budaya. Topik yang diteliti dapat diambil dari apa yang pernah dibahas pada komponen budaya di dalam kelas.
 

Topik
Riset
Budaya:

Konsepsi tentang budaya/stereotip dan generalisasi

Penelitian dan presentasi tentang cara pandang orang Indonesia terhadap orang Barat dan sebaliknya. Pembuatan dan pengolahan angkat
Agama:

Orientasi keagamaan/kontribusi agama/Pandangan tentang agama sebagai pemicu konflik sosial

Penelitian tentang bahasa, kegiatan keagamaan (kunjungan ke tempat ibadah)
Hak Asasi Manusia:

Permasalahan absolutisme dan relativitas HAM/Situasi HAM di Indonesia

Penelitian tentang situasi HAM di daerah tertentu dengan wawancara

Kesimpulan

Dari uraian di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa komponen budaya belum banyak digali dalam pengajaran BIPA. Teknik penyampaian komponen budaya dalam kelas BIPA masih menjadi hal yang sangat terisolir, padahal potensi komponen ini begitu besar untuk menuntun sehingga mereka memiliki kepekaan budaya (Indonesia) yang lebih tinggi. Hal ini dapat juga meningkatkan keterampilan berbahasa yang lebih akurat.

Bacaan pilihan:

Gasion, Jan C. 1984. Culture Awareness Teaching Techniques. Brattleboro, Vermont: Pro Lingua Associates.
Draine, Cathie and Barbara Hall. 1984. Culture Shock: Indonesia. Singapore: Times Books International.

Return to Volume I/1