Efektivitas Pengajaran Menulis
Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing:
Studi Kasus pada Seorang Pelajar dari Belanda

ERIZAL GANI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG, SUMATERA BARAT

Pendahuluan

Sasaran akhir pengajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (selanjutnya PBIPA) adalah terampil menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Keterampian tersebut tentu saja diimbangi dengan pengetahuan (ilmu) bahasa Indonesia. Artinya, pembelajar tidak hanya sekedar mahir berbahasa Indonesia, tetapi juga tahu tentang bahasa Indonesia tersebut.

Selama penulis menjadi salah seorang pengajar BIPA (mahasiswa dari Universitas Tasmania dan Universitas Deakin, Australia), penulis menemukan bahwa persoalan berbahasa Indonesia tulis merupakan persoalan yang rumit bagi penutur asing. Mereka cenderung membahasatuliskan bahasa lisan. Kesulitan ini juga dialami oleh “X”, seorang Magister Kehutanan dari negeri Belanda.

Makalah ini mencoba mengemukakan sumbangan pemikiran demi efektifnya pengajaran menulis BIPA. Titik berat pembahasan diarahkan kepada apa yang telah penulis lakukan dalam privat menulis bahasa Indonesia bagi penutur asing (Belanda).

Hakikat Menulis

Menulis merupakan salah satu dari empat aspek keterampilan berbahasa. Menurut Rusyana (1988:191) menulis merupakan kemampuan menggunakan pola-pola bahasa secara tertulis untuk mengungkapkan suatu gagasan atau pesan. Menulis atau mengarang adalah proses menggambarkan suatu bahasa sehingga pesan yang disampaikan penulis dapat dipahami pembaca (Tarigan, 1986:21). Kedua pendapat tersebut sama-sama mengacu kepada menulis sebagai proses melambangkan bunyi-bunyi ujaran berdasarkan aturan-aturan tertentu. Artinya, segala ide, pikiran, dan gagasan yang ada pada penulis disampaikan dengan cara menggunakan lambang-lambang bahasa yang terpola. Melalui lambang-lambang tersebutlah pembaca dapat memahami apa yang dikomunikasikan penulis.

Sebagai bagian dari kegiatan berbahasa, menulis berkaitan erat dengan aktivitas berpikir. Keduanya saling melengkapi. Costa (1985:103) mengemukakan bahwa menulis dan berpikir merupakan dua kegiatan yang dilakukan secara bersama dan berulang-ulang. Tulisan adalah wadah yang sekaligus merupakan hasil pemikiran. Melalui kegiatan menulis, penulis dapat mengkomunikasikan pikirannya. Dan, melalui kegiatan berpikir, penulis dapat meningkatkan kemampuannya dalam menulis.

Mengemukakan gagasan secara tertulis tidaklah mudah. Di samping dituntut kemampuan berpikir yang memadai, juga dituntut berbagai aspek terkait lainnya. Misalnya penguasaan materi tulisan, pengetahuan bahasa tulis, motivasi yang kuat, dan lain-lain. Paling tidak menurut Harris (1977:68) seorang penulis harus menguasai lima komponen tulisan, yaitu: isi (materi) tulisan, organisasi tulisan, kebahasaan (kaidah bahas tulis), gaya penulisan, dan mekanisme tulisan. Kegagalan dalam salah satu komponen dapat mengakibatkan gangguan dalam menuangkan ide secara tertulis.

Mengacu kepada pemikiran di atas, jelaslah bahwa menulis bukan hanya sekedar menuliskan apa yang diucapkan (membahasatuliskan bahasa lisan), tetapi merupakan suatu kegiatan yang terorganisir sedemikian rupa sehingga terjadi suatu tindak komunikasi (antara penulis dengan pembaca). Bila apa yang dimaksudkan oleh penulis sama dengan yang diamaksudkan oleh pembaca, maka seseorang dapat dikatakan telah terampil menulis.

Kondisi Dilematis

Bagi penutur asing, mengemukakan pikiran dengan bahasa Indonesia tulis yang baik dan benar bukanlah pekerjaan yang mudah. Ketidakmudahan itu hampir terjadi pada setiap aspek ketatabahasaan (fonem, morfem, dan sintaksis). Persoalan tersebut juga dialami oleh “X”, seorang dosen tamu suatu perguruan tinggi swasta Sumatera Barat. Sebenarnya “X” telah dapat berbahasa Indonesia lisan. Sekalipun belum begitu fasih, “X” telah dapat mengemukakan pikirannya dengan baik. Ia dapat memahami apa yang didengarnya, dan juga dapat menginformasikan apa yang ingin disampaikannya. Dengan kata lain, “X” telah dapat berkomunikasi dengan bahasa Indonesia lisan. Sebelum privat, “X” telah mampu menerjemahkan sebuah buku berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Menurut penulis, upaya “X” ini perlu dipujikan. Ia telah mampu memperlihatkan hasil perjuangannya. Padahal, ketika proses terjemahan tersebut dilakukan ia belum terampil berbahasa Indonesia. Buku terjemahan tersebut berjudul “Kehutanan Masyarakat” dan dipakai sebagai salah satu bahan untuk keperluan kuliah yang dibinanya. Sebagai seorang civitas akademika, tentu saja keterampilan berbahasa Indonesia tulis perlu dimiliki oleh “X”. Itulah sebabnya ia mengikuti privat bahasa Indonesia tulis dengan penulis. Sampai saat ini privat itu telah berjalan selama tiga bulan.

Persoalan kelemahan penutur asing menggunakan bahasa Indonesia tulis bukanlah hal yang baru. Ketika Kongres Bahasa Indonesia VII di Jakarta tahun 1998, KIPBIPA II di Padang tahun 1997, dan KIPBIPA III di Bandung 1999 dilaksanakan persoalan ini telah “diapungkan”. Bahkan jauh sebelum itu persoalan ini telah dibicarakan. Kuantitas dan kualitas kelemahan tersebut sangat bervariasi. Kelemahan itu hampir terjadi pada setiap komponen bahasa Indonesia tulis. Misalnya, masalah ejaan, imbuhan, pilihan kata, kata majemuk, kelompok kata, keefektifan kalimat, penataan paragraf, dan lain-lain. Jika dibanding-bandingkan, persoalan ejaan, diksi, dan imbuhan merupakan persoalan yang sering terjadi. Tiga persoalan tersebut, tentu akan mempengaruhi tatanan kebahasaan di atasnya (misalnya kalimat).

Pemberdayaan Pengajaran Menulis BIPA

Belajar dan mengajar merupakan dua istilah dalam dunia pendidikan yang sangat populer. Kedua istilah itu mengacu kepada suatu proses yang terjadi dalam suatu rangkaian unsur yang saling terkait. Belajar berarti berusaha agar memperoleh kepandaian atau ilmu. Bruner (dalam Hidayat dkk., 1990:2) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses yang terjadi secara bertahap (episode). Episode tersebut terdiri dari informasi, transformasi, dan evaluasi. Informasi menyangkut materi yang akan diajarkan, transformasi berkenaan dengan proses memindahkan materi, dan evaluasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk melihat sejauh mana keberhasilan proses yang telah dilakukan oleh pembelajar dan pengajar. Sehubungan dengan itu, Gagne (dalam Hidayat dkk., 1990:2) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan untuk menimbulkan perubahan pada anak didik.

Apa pun bentuknya, PBM harus diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam PBM menulis BIPA, tujuan tersebut adalah agar anak didik memiliki pengetahuan menulis, bersikap positif terhadap ilmu dan aktivitas, serta terampil menulis. Ketiga aspek tersebut senada dengan taksonomi yang dikemukakan oleh Bloom (taxonomy of bloom), yaitu kognitif domain (ranah pengetahuan), afektif domain (ranah sikap), dan psikomotor domain (ranah keterampilan). Untuk mencapai tujuan di atas, segala sesuatu harus diupayakan sedemikan rupa sehingga PBM menulis BIPA tersebut lebih berdaya guna. Sehubungan dengan itu, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan PBM menulis BIPA adalah sebagai berikut.

Materi Pengajaran

Pemilihan dan penyusunan materi ajar dalam PBM menulis BIPA hendaknya dilakukan sedemikian rupa sehingga materi itu dapat mengarahkan pembelajar untuk terampil berbahasa Indonesia tulis. Variasi jenis dan bobot kesukaran materi perlu disesuaikan dengan komponen PBM yang lain (siswa, media, dan lain-lain). Bila perlu, materi ajar berasal dari (pemikiran, tugas, dan pengalaman) pembelajar.

Tujuan Pengajaran

Tujuan PBM menulis BIPA hendaknya selalu diarahkan kepada terampil menulis dalam bahasa Indonesia (bahasa target). Untuk mencapai tujuan di atas, guru dalam perencanaan pengajarannya harus memperhatikan poin-poin tertentu yang dapat memudahkannya mencapai tujuan tersebut. Tampaknya porsi latihan menulis dengan segala dinamikanya merupakan kunci utama keberhasilan. Pembelajar harus dibiasakan dengan menulis dalam bahasa target (Indonesia). Hasil tulisan tersebut didiskusikan dengan pembelajar, sehingga pembelajar mengetahui kelemahan dan keunggulannya. Berdasarkan hal tersebut diputuskanlah suatu tindak lanjut yang mengarah kepada keterampilan menulis pembelajar. Sekalipun tujuan pengajaran adalah terampil, bukan berarti aspek yang lain (pengetahuan dan sikap) diabaikan. Artinya, di akhir PBM hendaknya diperoleh out put yang terampil menulis dan mengerti dengan kaidah-kaidah menulis dalam bahasa target.

Pengajar dan Pembelajar

Sukses tidaknya suatu PBM sangat ditentukan oleh pemegang kendali PBM tersebut, dalam hal ini adalah pengajar. Pengajar yang berkualitas cenderung menghasilkan pembelajar yang berkualitas, demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu, pengajar BIPA hendaknya tidak hanya memiliki kompetensi, performansi, dan sikap kebahasaindonesiaan yang baik. Akan tetapi, juga memiliki wawasan kependidikan yang memadai. Ada baiknya pengajar memiliki rasa humor, fleksibel, punya kendali emosi, matang dalam kepribadian, memahami kondisi pembelajar, memiliki bakat guru, punya wawasan kebangsaan yang kuat, dan lain-lain. Jadi, disamping sumber daya manusia, sumber daya insani hendaknya juga dimiliki pengajar.

Sejalan dengan pengajar, pembelajar pun memegang kendali dalam pencapaian keberhasilan PBM menulis BIPA. Motivasi yang kuat dari pembelajar untuk terampil menulis dalam bahasa target merupakan pendukung utama keberhasilan pembelajar yang bersangkutan. Hendaknya pembelajar selalu mengoptimalkan potensi menulis yang dimiliki melalui bahasa target yang tengah dipelajarinya. Motivasi yang kuat dari pembelajar merupakan kunci utama keberhasilan PBM menulis BIPA. Oleh sebab itu, apa pun harus dilakukan oleh lembaga penyelenggara BIPA agar motivasi tersebut mampu dibangkitkan dengan tepat.

Metode Pengajaran

Metode pengajaran merupakan cara mengajar pengajar dalam PBM yang dibinanya. Pilihan metode yang tepat sangat membantu tingkat ketercapaian tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, pengajar menulis BIPA harus dapat menerapkan metode pengajaran dengan tepat. Persoalan penggunaan media juga perlu mendapat perhatian. Dalam privat yang penulis bina tampaknya metode pelatihan dan diskusi merupakan dua metode yang ampuh dalam rangka menerampilkan pembelajar menulis dalam bahasa target.

Pembelajar disuruh menulis tentang apa saja (sebaiknya materi yang dekat dengan pembelajar). Hasil tulisan pembelajar dikoreksi dan didiskusikan dari berbagai aspek bahasa Indonesia tulis. Untuk kelas yang besar, pelibatan teman sebaya perlu dilakukan. Dengan kegiatan tersebut, pembelajar akan mengetahui kelemahan dan keunggulannya dalam hal ketatabahasaan, kelogisan pikiran, dan kaidah-kaidah menulis lainnya.

Evaluasi Hasil Belajar

Evaluasi merupakan salah satu komponen pengajaran yang sangat penting. Melalui evaluasi seorang pengajar dapat (1) mengetahui tingkat ketahuan dan keterampilan menulis pembelajar, (2) mengetahui keberhasilan PBM yang telah dilaksanakan, dan (3) menentukan kebijakan selanjutnya. Evaluasi PBM menulis BIPA hendaknya selalu memperhatikan tujuan pengajaran, materi, dan proses yang telah dilakukan. Sehubungan dengan itu, evaluasi yang tepat menurut hemat penulis adalah kegiatan menulis. Hal ini tentu saja tanpa mengabaikan aspek teori menulis.

Pengakhiran

Agar tujuan yang ditetapkan dapat dicapai sebagaimana yang diharapkan, maka ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan PBM menulis BIPA, yaitu pengelolaan perencanaan, proses, evaluasi, dan tindak lanjut pembelajaran. Keempat hal tersebut harus dikelola dengan tepat. Bila tidak demikian, jangan harapkan keberhasilan PBM menulis BIPA dapat diwujudkan. r

Daftar Pustaka

Akhadiah, Sabarti. 1988. Evaluasi dalam Pengajaran Bahasa. Jakarta: Depdikbud.

Bloom, Benyamin S., et el., 1966. Taxonomy of Educational Objectives: Cognitive Domain. New York: David McKay Company Inc.

Gani, Erizal. 1997. Evaluasi dalam Pengajaran Bahasa Indone- sia untuk Penutur Asing (makalah KIPBIPA II). Padang: FPBS IKIP Padang.

Gani, Erizal. 1999. Pemberdayaan Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asia (makalah KIPBIPA III). Bandung: IKIP Bandung.

Gani, Erizal. 2000. Evaluasi dalam Pengajaran Bahasa: Suatu kondisi Dilematis (Makalah Seminar Nasional X HPBI). Jakarta: Pusat Bahasa.

Gani, Erizal. 2001. Pemberdayaan Pengajaran Menulis; Upaya Menumbuhkembangkan Kemahiran Menulis Sejak Dini (Makalah Seminar Nasional XI HPBI). Denpasar: Balai Bahasa Denpasar.

Hamid, Fuad Abdul. 1987. Proses Belajar Mengajar Bahasa. Jakarta: Depdikbud.

Karmin, Y., 1999. "Pengembangan Tes Bahasa Indonesia untuk Pelajar Asing", (makalah KIPBIPA III). Bandung: IKIP Bandung.

Lado, Robert. 1975. Language Testing. London: Longman Group Limited.

Lengkanawati, Nenden Sri. 1999. "Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing", (Makalah KIPBIPA III) Bandung: IKIP Bandung.

Nurgiantoro, Burhan. 1987. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.

Hidayat, Roehadi dkk., 1990. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Bandung: Tarsito.

Rusyana, Yus. 1988. Bahasa dan sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: Diponegoro.

Semi, M. Atar. 1990. Rancangan Pengajaran Bahasa dan Sastra. Bandung: Angkasa.

Setiadi, Riswanda. 1999. “Pengajaran Baca Tulis Permulaan untuk Penutur Asing” (Makalah KIPBIPA III) Bandung. IKIP Bandung.

Subyakto. Sri Utari. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Depdikbud.

Tarigan, Hendrik Guntur. 1989. Metodologi Pengajaran Bahasa: Suatu Penelitian Kepustakaan. Jakarta: P2LPTK Depdikbud.

Yasin, Anas. 1999. “Menumbuhkan kesadaran Pembelajar tentang `Genre` Melalui Latihan Pengalihan Teks dalam Belajar Menulis” (Makalah KIPBIPA III). Bandung: IKIP Bandung.

Zuchdi, Darmiyati. 1999. “Manajemen Program Pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing dengan Pola Kemitraan (Makalah KIPBIPA III). Bandung: IKIP Bandung.


Return to Volume I/5