Rancangan Materi Pembelajaran
Bahasa Indonesia
sebagai Bahasa Asing (BIPA)1)

Nyoman Riasa
IALF Bali


 

Keberhasilan pengajaran dan pembelajaran BIPA sangat tergantung pada keberhasilan guru merancang materi pengajaran yang merupakan alat untuk mencapai sasaran belajar yang hendak dicapai. Sasaran tersebut harus sesuai dengan tujuan belajar siswa, tujuan pengajaran, tujuan kurikuler, atau tujuan institusional.


Buku ajar BIPA tidak banyak tersedia di pasaran atau di perpustakaan besar di Indonesia padahal selama lebih dari 30 tahun BIPA sudah diajarkan di Indonesia dan di lebih dari 50 negara di dunia. Salah satu penyebab utama kelangkaan materi BIPA di Indonesia adalah keengganan para pelaku BIPA untuk menuangkan pengalaman mereka.

Chaedar Alwalsillah dalam sinyalemennya melalui The Jakarta Post (22 Agustus 1998) 'Are we ready for IFL teaching?' mengatakan bahwa kelangkaan materi BIPA disebabkan oleh ketidakmampuan kalangan akademis untuk menuliskan pengalaman mereka.

Sebenarnya materi BIPA di Indonesia sangat melimpah. Tidak benar jika guru di Indonesia kekurangan atau tidak memiliki materi. Sumber materi jumlahnya tak terhingga mulai dari media massa (media cetak dan elektronik), brosur, dan penutur jati (asli). Kekurangan yang paling besar adalah kemauan, keberanian, dan kemampuan untuk mengolah bahan-bahan itu menjadi bahan pelajaran. Dengan kata lain, kelangkaan sumber daya manusia yang handal merupakan masalah utama dalam pengembangan program BIPA di Bali.

1. Analisis Materi

Dalam menelaah materi pengajaran BIPA kita bisa mulai dengan mengamati tugas-tugas (tasks) yang tercakup dalam materi tersebut. Tugas tersebut bisa berupa tugas pedagogis (pedagodical tasks) atau tugas yang benar-benar dilakukan dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa yang sedang dipelajari (real-world tasks). Untuk memudahkan guru dalam memahami dan merancang tugas yang sesuai, Nunan (1989: 9-10) memberikan definisi tugas sebagai:
... pekerjaan di dalam kelas yang menuntut pembelajar untuk memahami, memanipulasi, mengeluarkan ungkapan dan berinteraksi dalam bahasa yang sedang dipelajari dan pada saat yang sama perhatian mereka terpusat pada penguasaan makna dan bukan pada penguasaan bentuk atau struktur.                                          (Terjemahan saya)


Menurut Breen dan Candlin (dalam Sheldon ed. 1987) tugas adalah rencana kerja yang dirancang secara sistematis mulai dari latihan yang paling sederhana dengan tingkat kesulitan paling rendah sampai dengan kegiatan komunikasi total atau pemecahan masalah.

Kedua definisi ini mengisyaratkan kepada guru BIPA bahwa hakekat pembelajaran BIPA sebenarnya bukanlah untuk mempelajari aturan-aturan kebahasaan atau mengerjakan latihan-latihan dalam buku ajar. Semua pengetahuan tentang tata bahasa dan kosa kata serta keterampilan menjawab pertanyaan dan mengerjakan tugas-tugas di dalam kelas (pedagogical tasks) harus bermuara pada penguasaan keterampilan dan kemampuan siswa untuk berkomunikasi di luar kelas dalam bahasa yang sedang dipelajari (real-world tasks).

Dengan memperhatikan makna tugas menurut definisi di atas, rancangan materi di bawah ini dapat dianalisis berdasarkan kriteria komponen tugas menurut Nunan (989: 11) sebagai berikut.

Materi di atas menghendaki siswa untuk melakukan kegiatan bertanya jawab tentang apa yang sedang dilakukan oleh tiap anggota keluarga. Untuk dapat melakukan tugas itu siswa diharapkan telah menguasai struktur kalimat tanya dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian tiap siswa berperan sebagai lawan bicara sementara guru berperan sebagai fasilitator. Secara singkat, analisis materi di atas dapat diringkas sebagai berikut:
 
Tujuan  : Bertanya jawab
Input : Informasi kegiatan keluarga dalam bentuk gambar
Kegiatan : 1. Membaca untuk menentukan kegiatan sesuai gambar
   2. Kerja berpasangan/kelompok
 Peran guru : Pemantau dan fasilitator
Peran siswa : Pasangan bicara
Situasi : Kelas/kerja kelompok atau berpasangan 

 Breen and Candlin (ibid) mengajukan sejumlah kriteria untuk memilih materi yang bermanfaat.

1. Tujuan (instruksional, kurikuler, dst.)
2. Tugas yang dikerjakan siswa
3. Minat siswa
4. Pengembangan kegiatan komunikasi
5. Cara belajar dan konsep siswa tentang bahasa
6. Keleluasaan menentukan pilihan
7. Apa yang telah dan akan dipelajari
8. Cara penyajian
9. Sumber-sumber belajar lain di dalam kelas
10. Situasi belajar-mengajar di dalam kelas
11. Evaluasi terhadap prosedur dan isi pelajaran

2. Tata Letak

Materi yang disadur dari sumber yang telah diterbitkan harus dirancang ulang sesuai kebutuhan. Materi yang diambil dari buku ajar tertentu biasanya dibuat untuk kalangan siswa dalam situasi tertentu. Dengan demikian, guru diharapkan mampu merekacipta materi tersebut agar sesuai dengan kondisi belajar yang sedang dihadapi.

Untuk menampilkan materi secara profesional dan untuk memudahkan revisi dan pengembangan lebih lanjut, materi yang dikembangkan di IALF secara nyata memuat data tentang hal-hal berikut.

Perancang (Lembaga)

Perancang bisa lembaga atau perseorangan yang bertanggung jawab terhadap penyusunan materi. Dengan mengetahui perancang materi tersebut, kita akan bisa menghubunginya jika kita hendak memperoleh materi tersebut.

Pemakai (Klien)

Pemakai adalah siswa atau program yang menggunakan materi. Penampilan nama lembaga/program pemakai memberikan kesan bahwa materi tersebut khusus dirancang untuk mereka.

Tingkat

Dengan mencantumkan Tingkat/Kelas pada materi, guru akan memperoleh informasi tentang tingkat kesulitan materi. Jika kelak materi itu hendak digunakan untuk tingkat yang lebih tinggi atau lebih rendah, guru bisa melakukan penyesuaian sebagai mana mestinya.

Sumber

Pencantuman sumber akan memudahkan guru lain untuk melacak kebenaran informasi yang ada di lembar materi dan mengetahui lebih jauh tentang topik yang ada pada lembaran tersebut.

3. Komponen

Input bahasa

Tiap lembar materi pada dasarnya mengandung input bahasa. Kadang-kadang input bahasa itu disampaikan secara tersurat atau tersirat dalam jumlah yang bervariasi. Dalam lembaran yang hanya terdiri dari gambar atau ilustrasi pun terkandung input bahasa yang tak terhingga.

Komponen bahasa yang tertera di dalam lembar materi dapat berfungsi untuk memperkenalkan pelajaran baru atau melakukan konsolidasi terhadap pelajaran yang telah dipelajari. Materi yang bagus akan membantu siswa untuk mengetahui apa yang sudah dan akan mereka pelajari dari materi yang diberikan.

Tujuan

Materi yang bagus memberikan kemudahan kepada siswa untuk melakukan identifikasi tujuan pengajaran. Materi yang efektif mampu menunjukkan kepada siswa apa yang akan mereka pelajari dari materi yang diberikan: belajar bahasa atau keterampilan baru.

Peran siswa dan guru

Materi harus mampu menentukan peran yang akan diambil oleh siswa dan guru. Dalam pengajaran BIPA yang siswanya kebanyakan orang dewasa, guru harus mengakui bahwa tiap siswa telah mengembangkan keterampilan bahasa dan keterampilan belajar yang dapat diaplikasikan dalam proses belajar-mengajar BIPA. Guru perlu menumbuhkembangkan sikap bahwa keberhasilan belajar pada dasarnya tergantung pada siswa itu sendiri (autonomous or independent learning).

Kesesuaian

Materi pelajaran mencerminkan paham yang dianut guru tentang konsep bahasa, belajar-mengajar, dan bahasa asing. Jika guru memberikan materi yang sarat dengan latihan tata bahasa ini dapat menjadi indikasi bahwa guru tersebut mengikuti aliran pengajaran bahasa secara tradisional. Sementara itu, guru yang menyajikan materi yang mendorong siswa untuk melakukan kerja kelompok atau berpasangan mungkin menganut konsep bahwa bahasa adalah komunikasi.

Cara belajar siswa

Mengembangkan materi yang benar-benar sesuai dengan cara belajar siswa merupakan tugas yang sangat sulit bagi guru. Namun, jika guru mengetahui karakteristik pengajaran dan pembelajaran bahasa asing, guru akan lebih mampu menampilkan materi yang cocok untuk siswa.

Usia dan minat siswa

Di samping umur, faktor minat juga perlu diperhatikan dalam merancang materi. Misalnya, Dalam mempelajari kosa kata bahasa Indonesia, siswa-siswa BIPA di Australia lebih senang mempelajari kata bahasa Indonesia asli daripada kata serapan.

Ungakapan, "Saya mau ke kamar kecil." akan dinilai lebih tinggi dibandingkan dengan, "Saya mau ke toilet.". Sehubungan sikap negatif siswa Australia terhadap kata serapan, Hassall (1999) mengatakan:

My strong impression is that Australian students underuse these Western loan words (WLWs) compared to educated native speakers. That is, they strongly tend to use native words where educated Indonesian . would often use WLW instead.

A major reason I would suggest that Asutralian undersue WLWs is simply that they dislike them. The main basis for this belief is introspection. I hated these words for years as a student, and have though a lot about why, and suspect my reasons apply to a lot of students.

Budaya siswa/bahasa sasaran

Materi harus mempertimbangkan unsur-unsur budaya siswa dan budaya bahasa sasaran. Dalam pelajaran tentang "Perkenalan", misalnya, guru tidak bisa memaksa siswa asing dari Thailand atau Jepang untuk langsung belajar berjabat tangan dalam kelas BIPA. "Menawar" dalam budaya bahasa Indonesia tidaklah mudah untuk dipahami atau dilakukan oleh kelompok masyarakat yang tidak mengenal budaya tawar-menawar dalam berbelanja. Pengetahuan tentang hal ini memungkinkan guru untuk merancang materi dan kegiatan kelas yang sesuai. Cuplikan materi BIPA di bawah ini mengandung kesalahan sangat serius tentang budaya Bali.
Pak Agung tinggal di desa Sangeh di Pulau Bali. Dia petani dan bekerja di sawah setiap hari dari pagi sampai malam. Biasanya Pak Agung bangun pagi pada jam empat dan makan pagi sebelum pergi ke sawah. Di belakang rumahnya ada lima belas ayam putih, dua sapi coklat, duabelas bebek, tiga kambing, dan satu kerbau. Bu Agung juga bekerja di sawah. Di keluarga Agung ada enam orang, Pak Agung, Bu Agung, dan empat anak. Anaknya bernama Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut1  Umurnya lima belas, dua belas, dan enam. Rumahnya kecil tetapi dia mempunyai banyak tanah. Di samping desa Sangeh ada hutan dengan banyak monyet. Setiap hari ada banyak wisatawan yang mengunjungi hutan ini dan memberi kacang kepada monyet.
(Hibbs et al, 1996: 96)


Di samping mengandung ketidakcermatan pemakaian bahasa, wacana pendek di atas mengandung masalah budaya yang sangat serius. Misalnya, mungkinkah orang Bali yang bernama Bapak dan Ibu Agung akan menamai anak-anak mereka dengan Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut? Jawaban terhadap pertanyaan ini akan sangat tergantung pada asumsi-asumsi budaya yang akan dikemukakan penjawabnya.

Pengembangan berkelanjutan

Materi yang baik memberikan ruang bagi guru untuk terus melakukan revisi dan pembaruan. Guru juga harus mampu melihat ruang untuk menciptakan teknik dan strategi belajar-mengajar selanjutnya pada semua tingkat. Bagi siswa, materi harus memungkinkan mereka untuk mengembangkan keterampilan bahasa yang lain. Misalnya, materi yang pada awalnya dirancang untuk mengembangkan keterampilan menulis, bisa dikembangkan untuk meningkatkan keterampilan berbicara.

Penutup

Kesiapan, kemampuan, dan pengalaman guru dapat tercermin dari tampilan materi yang diberikan kepada siswa. Tampilan materi juga memberikan petunjuk kepada 'siswa' tentang keseriusan, kepekaan, dan kecermatan guru dalam menyajikan pelajaran.

Guru yang peduli dengan kepentingan siswa senantiasa menyiapkan pelajaran dengan baik. Persiapan yang baik memberikan jaminan keberhasilan belajar-yang lebih besar.

Tampilan materi harus memenuhi unsur-unsur estetika, pedagogis, dan didaktik metodik. Kebenaran informasi dalam materi hanyalah merupakan salah satu prasyarat materi yang baik. Kita perlu memahami bahwa materi yang baik belum menjamin keberhasilan proses belajar-mengajar. Langkah selanjutnya yang harus dilaksanakan guru adalah merancang kegiatan belajar menggunakan materi yang telah disiapkan. Hanya dengan merampungkan tugas ini guru bisa dengan tenang memasuki ruang kelas untuk 'mengajar'.

__________________________
1) Disampaikan dalam Lokakarya Pengajaran Bahasa Asing di fakultas Sastra, Universitas Udayana, 30 Agustus 1999.

1 My highlighting
 

Referensi

Breen, Michael P. & Christopher N. Candlin, 1987. 'Which Mate rials?: A Consumer's and Designer's Guide' dalam Leslie E. Sheldon (editor). ELT Textbooks and Materials: Problems in Evaluation and Development, ELT Document 126, Modern English Publications dan The British Council.

Dardjowidjojo, Soenjono, 1978. Sentence Patterns of Indonesian, Honolulu, University of Hawaii Press.

Dardjowidjojo, Soenyoto. 1996. 'Metode dan Keberhasilan Pengajaran BIPA', a paper presented at the 2nd KIPBIPA in Padang, 29 Mei-1 June.

Hassall, Tim. 1999. 'Budaya or Kultur? Learning and Teaching Western Loan Words' makalah yang disajikan pada Konperensi Nasional V ASILE (Australian Society of Indonesian Language Educators), 8-10 Juli 1999, Canberra, Australia National University.

Hendrata, Hendy. 1970. A-L Course in Bahasa Indonesia Part B. Carlton, Australia.

Return to Volume I/3