|
Oleh-oleh dari North Coast (New South Wales) dan Perth (Western Australia): Program Pertukaran Guru BIPA IALF Bali (Dirangkum oleh Nyoman Riasa)
|
| Berikut ini kami tampilkan laporan tentang program pertukaran guru
BIPA IALF Bali dengan Departemen Pendidikan NSW (New South Wales) dan Westralian
Indonesian Language Teacher Association (WILTA) Australia Barat. Bundhowi
(Bun) mendapat kesempatan tinggal dan mengajar Bahasa Indonesia di NSW
selama 6 bulan (Juli – Desember 2000). Bun mengajar di Evans River Community
School dan di tiga sekolah dasar (Primary School) yaitu Coraki PS, Broadwater
PS dan Woodburn PS. Ketiga sekolah dasar ini tergolong 'feeder primary
school' di kawasan tersebut. Bun juga memberikan beberapa lokakarya tentang
pengajaran kesadaran budaya pada guru-guru yang bekerja di Ocean Shores
dan Ryde dan membantu program imersi Bahasa Indonesia di kota Dubbo dan
Byron Bay.
Sementara itu, Ni Komang Wartini, guru BIPA pertama di IALF Bali, berkeliling selama satu bulan di Australia Barat (24 Mei - 26 Juni 2000) dalam IALF-WILTA ‘Reciprocal Teacher Visit’ (RTV). Sebenarnya program ini diawali dengan kedatangan Jenny Stewart (anggota WILTA) di Bali pada bulan Januari 2000. Dia terpilih untuk mengikuti program RTV di Bali. NSW Teacher Assistant Program – Bun"Akhirnya selesai juga tugas saya untuk menjadi seorang ‘Assistant Teacher’ di beberapa kota kecil di daerah North Coast NSW. Pengalaman yang sangat menarik ini dimulai ketika saya mendarat di Ballina. Hawa dingin yang sangat menggigit mengingatkan saya pada musim dingin di Kanada. Ini merupakan musuh yang paling tidak saya sukai, tapi ya harus saya tahan-tahan. Saya dijemput oleh Ibu Linda Keyte, seorang kepala guru di sekolah Evans River K-12 di Evans Head yang menjadi ‘home base’ saya selama 6 bulan. Segera setelah sampai di rumah Ibu Keyte di Federal saya cukup tercengang melihat rumah di tengah ladang yang penuh dengan pepohonan dan sayuran Asia.Tugas saya cukup beragam, mengajar murid-murid di SD, SMP dan SMU
di Sekolah Evans Head, Broadwater, Woodburn dan Coraki, membantu mengembangkan
materi pelajaran dan mengajar bersama Di samping tugas mengajar dan konsultasi bahasa, saya juga memberikan lokakarya tentang pengajaran Bahasa dan Budaya Indonesia dengan kartun dan komik yang saya kembangkan sendiri. Dari lokakarya yang saya pandu ternyata banyak sekali faktor budaya yang masih dipahami secara terlalu umum. Para pengajar juga mengaku bahwa mereka merasa memikul beban yang besar serta tidak memiliki keahlian untuk mengajarkan kesigapan budaya ini. Yang cukup memprihatinkan adalah kekhawatiran para guru bahasa Indonesia, terutama yang tinggal di kota-kota besar, mengenai turunnya secara drastis jumlah siswa yang mengambil mata pelajaran pilihan bahasa Indonesia. Situasi ini diperparah oleh adanya larangan bepergian bagi murid-murid yang merencanakan kunjungan belajar ke Indonesia. Situasi hubungan Indonesia – Australia sempat memanas akibat gejolak politik di tanah air seperti kekacauan pasca referendum di Timor–Timur (kini Timor Leste), berita televisi dan koran, dan peristiwa Ambon yang melibatkan pemeluk agama Kristen dan Islam. Saya harus mengatakan kepada mereka bahwa kami, rakyat Indonesia, juga menjadi korban keganasan dan represi sebuah rezim. Menurut saya naik-turunnya minat belajar bahasa Indonesia adalah hal yang biasa. Namun saya tidak bisa menjelaskan korelasi antara minat belajar suatu bahasa dengan keadaan politik di negara di mana bahasa tersebut dipakai. Dengan bertugas selama seminggu di Departemen Pendidikan dan Pelatihan LOTE (Languages Other Than English) di NSW saya yakin bahwa terdapat gejala umum bahwa minat belajar bahasa selain bahasa Inggris memang menurun. Apa yang bisa saya petik dari tugas enam bulan saya di Australia? Pertama, murid-murid perlu mendapatkan pengalaman langsung berhubungan dengan guru atau penutur asli bahasa Indonesia yang bisa menjelaskan keadaan di Indonesia. Pada mulanya saya merasakan beban yang cukup besar ketika dihujani dengan berbagai pertanyaan tentang peristiwa-peristiwa yang saya sebutkan di atas. Melalui penjelasan dialogis saya sampaikan bahwa pengertian yang baik tentang ‘tetangga’ dekat kita tidak terbatas pada pemahaman kita terhadap bahasa dan budaya. Potensi ekonomi dan pengembangan iptek juga bisa dipertimbangkan. Singkatnya, pengalaman ini menyadarkan saya bahwa di balik penurunan minat belajar bahasa Indonesia saat ini terdapat faktor-faktor yang bisa diupayakan untuk mengenalkan bahasa Indonesia dan mempertahankan ketertarikan siswa pada bahasa dan budaya Indonesia. Akhirnya, selamat tinggal Australia – sampai jumpa lagi. Salam bahasa." WILTA – IALF RTV Program - Komang" … Setelah menerima kunjungan seorang guru dari WILTA, IALF mengirim salah seorang gurunya untuk program ini. Dari beberapa guru yang melamar, saya terpilih untuk mengikuti program RTV di Western Australia.Saya tiba di Bandara Perth pada tanggal 20 Mei jam 11 malam dan dijemput oleh Karen Bailey, Julie Martin dan suaminya, Peter Martin. Keluarga Martin menyambut saya di rumah mereka dengan hangat dan ramah. Hari pertama di Perth, hari Minggu, saya bertemu dengan beberapa guru WILTA di sebuah rumah makan di pusat kota Perth yang sangat bersih, hijau dan mempunyai banyak taman yang indah. Setelah menikmati sarapan ala Australia, kami lalu mengunjungi Perth Zoo, yang mempunyai beragam koleksi satwa. Selama di WA saya mengunjungi tiga belas sekolah, baik sekolah negeri
maupun swasta. Di sekolah Pada minggu kedua saya berada di daerah selatan Australia Barat kira-kira 185 km dari kota Perth. Saya berada di sana selama dua hari untuk mengunjungi Primary dan Secondary John Septimus Roe Anglican Schools. Setelah mengunjungi dua sekolah itu, saya kembali ke kota Perth. Saya mengadakan kunjungan ke sekolah swasta yaitu Servite College dan St. Dennis Primary School. Di sekolah itu saya mengajar siswa-siswanya membuat ketupat. Mereka sangat tekun mengikuti petunjuk sehingga dalam waktu yang singkat mereka bisa membuatnya. Setelah selesai mengajar di dua sekolah itu, saya melanjutkan perjalanan saya menuju ke utara untuk mengunjungi Jurien Bay District High School dan Cervantes Primary School. Setelah itu saya berangkat ke Geraldton untuk mengunjungi Geraldton Secondary College. Setelah dua hari berada di sana, saya kembali ke kota Perth untuk mengikuti lokakarya WILTA yang dilaksanakan selama dua hari dan diikuti oleh para guru bahasa Indonesia dari berbagai penjuru wilayah Australia Barat. Saya menyajikan dua materi lokakarya yaitu tentang Hari Raya Nyepi dan lagu-lagu serta permainan dalam kelas. Selama lokakarya itu, saya merasa seperti berada di Indonesia. Hampir semua peserta berbahasa Indonesia, ruangannya dihias dengan barang-barang dari Indonesia dan bahkan ada sebuah becak milik Bapak Richard (dikenal juga dengan nama Pak Rusli) yang dipajang di sana. Ada pula pertunjukan tari dan lagu dari berbagai daerah di Indonesia. Suasana menjadi lebih Indonesia dengan hidangan bercita rasa Indonesia. Sebagai orang Indonesia, saya merasa sangat bangga. Setelah lokakarya, saya pergi ke Merriden untuk mengunjungi Senior High School, North dan South Primary School. Saya berada di sana selama tiga hari. Selanjutnya saya berkunjung ke Fremantle untuk mengunjungi Presbyterian Ladies College yang merupakan sekolah terakhir yang saya kunjungi. Saya mendapatkan banyak pengalaman baru yang sangat menarik dan melihat secara langsung bagaimana bahasa Indonesia diajarkan di Australia Barat. Terimakasih banyak kepada para guru yang telah mengijinkan saya mengunjungi sekolah mereka dan juga menerima saya untuk tinggal di rumah mereka. Semua itu tidak akan pernah saya lupakan ..." Evaluasi ProgramApa kata pihak Australia tentang program ini? Mari kita simak komentar dari Australia.Leonie Wittman (Indonesian Consultant K-12, Curriculum Support Directorate, NSW Department of Education) " … The workshop on teaching cultural awareness aimed to provide teachers with the skills and understanding to incorporate appropriate and authentic sociocultural content into their Indonesian language programs. These workshops were highly evaluated by all participants. They appreciated Pak Bun’s combination of theory and subsequent practice and realised that cultural awareness can be taught, rather than cultural per se. There were numerous favourable comments about Pak Bun’s pedagogy – the well – placed and varied activities, his interesting and humorous presentation and the many opportunities for participants to be actively involved in hands on hands activities. Many participants expressed the feeling that they could use or adapt many of his ideas in their classrooms. Some of the comments were: "The services exceeded my expectations. It made me think my perception of culture." "Fantastic – I learnt so much about teaching cultural awareness in an interesting, fun way." "Much food for thought." The immersion days were designed to provide teachers of Indonesian with opportunities to participate in a range of activities …. Pak Bun was able to work with teachers and facilitate many of the activities. His patient and non-threatening manner instilled confidence and encourage the participants to speak Indonesian. Some comments included: "It was good to be able to use Indonesian in easy, non-threatening situation." "We were all actively involved. Many excellent ideas for teaching language were introduce." On a personal note, I really enjoyed working with Pak Bun and appreciated his professionalism and his cooperation. I know that the teachers with whom he worked also valued his expertise, his sense of humour and his teaching skills. ... Linda Keyte (Indonesian Teacher) and Robyn Walker (Principal) - Evans River K-12 School "… Pak Bun, as he likes to be called, has had tremendously positive impact both within our school and in the wider community. Pak Bun has worked in all the feeder primary schools assisting in the teaching of students in year 6 at Coraki, Broadwater, Woodburn and Evans River. His drawing and teaching skills have made him popular with younger students. … In the high school, Bun has worked with years 7 – 12 and has created much interest in the learning of Indonesian language and culture. In fact, 17 out of 68 students in year 8 have elected to study Indonesian year 9, our largest class ever. During his appointment, Bun has befriended many members of staff, several of whom are planning trips to Bali, Java and Sumatra next year. Staff’s interest in Indonesia assist in promoting the study of language at our school and strengthens ties between our two countries. Bun’s interaction with the wider community has also been a positive one. He exhibited some paintings at Evans Head and led a training conference for teachers of Indonesian which created an enormous interest with 35 teachers attending from all over the North Coast. He also worked for a day with Indonesian teachers at two neighbouring high schools. Bun’s appointment at our school has therefore been a very positive boost for the promotion of Indonesian language study. His diligence, commitment and expertise will produce results now and in the future years …"
Karen Bailey (President of WILTA), Perth
"… A copy of our current newsletter is on its way to the IALF and
you may be interested in reading Komang’s article if you have not seen
it already. Our committee is currently collating feedback from Komang and
the WILTA teachers involved and I will get it to you as soon as possible.
|