|
LOKAKARYA
|
| Surat berikut dikirim oleh Agung Leaoka, salah seorang peserta Lokakarya
BIPA Regional Bali III pada tahun 1999. Surat ini menjadi salah satu indikator
bahwa masih banyak permasalahan pengajaran BIPA yang perlu dikaji agar
pengajaran BIPA menjadi lebih efektif. Sebagai pihak penggagas Lokakarya,
IALF merasa gembira bahwa diskusi mengenai aspek-aspek pengajaran BIPA
dan segala kendalanya tidak berhenti pada Lokakarya ini saja.
Dear Bapak Riasa, Terima kasih banyak atas informasi yang Anda berikan tentang BIPA dan fasilitas dari IALF. Tentu saja saya sangat tertarik untuk menjadi anggota APBIPA dan member di Resource Room Anda. Satu hal lagi yang ingin saya ketahui, apabila ada bahan yang sekiranya menarik serta saya pikir bermanfaat bagi saya, dengan menjadi Resource Room member, apakah bahan tersebut dapat saya photocopy? Mengenai "pertanyaan klasik" tentang imbuhan, terus terang pada saat lokakarya tahun lalu saya merasa kecewa karena tidak mendapatkan kesempatan untuk mengikuti diskusi paralel tentang pengajaran imbuhan. Saya sendiri berpendapat bahwa pengajaran kedua imbuhan tersebut sama pentingnya. Masalahnya menurut saya adalah bahwa penutur asing - khususnya penutur bahasa Inggris - memiliki kecenderungan bertutur tidak menggunakan pola kalimat pasif. Sebisanya mereka menggunakan pola kalimat aktif - seperti yang juga dapat Anda amati pada fasilitas spelling and grammar check komputer Anda yang akan menggaris hijau kalimat Anda bila Anda menulis dengan pola pasif !!! Hal ini menunjukkan pola kultur atau budaya penutur bahasa yang bersangkutan yang dalam hal ini menunjukkan penutur bahasa Inggris lebih aktif dan blak-blakan. Kita dalam bahasa Indonesia cenderung berpola pasif yang terkadang bertujuan untuk memperhalus atau menyamarkan. Seperti misalnya pada kalimat Ayah memukul anjing itu. Kesan yang kita tangkap dari kalimat tersebut adalah penekanannya pada Ayah (yang kasar, kejam) memukul anjing. Kemudian kita menyampaikannya dengan bentuk pasif Anjing itu dipukul oleh ayah. Ayah sebagai pelaku di sini tersamar oleh peletakaan anjing pada awal kalimat. Saya rasa penutur asing yang ingin berbahasa Indonesia dengan baik sangat perlu menyelami watak serta budaya orang atau masyarakat Indonesia yang menggunakan pola pasif dan aktif secara seimbang. Mengenai yang mana harus diajarkan terlebuh dahulu, saya berpendapat seperti yang telah saya uraikan di atas, tidak dapat diajarkan secara terpisah. Konsep aktif pasif di sini berdampingan dengan kuantitas penerapannya dapat saya katakan cukup berimbang dalam bahasa Indonesia. Bagaimana menurut Anda? Kasus serupa juga saya temui saat mengajarkan bahasa Indonesia di Kelas 7 di sekolah saya. Banyak dari anak didik saya yang berasal dari keluarga kawin campur sehingga mereka cenderung menggunakan bahasa Inggris – dan berpikir dalam bahasa Inggris - dan mereka seringkali menggunakan direct translation dari Inggris ke Indonesia sehingga bukan transfer of meaning yang terjadi namun justru transfer of form akibat kurang dalamnya pemahaman mereka terhadap adanya pengaruh budaya serta pola pikir dalam berbahasa. Well, saya sangat mendukung segala sesuatu yang IALF lakukan dan saya juga berharap semakin banyak pihak yang sadar akan pentingnya BIPA. Sekali lagi terima kasih. Lea |