|
Peristiwa BIPA di Penghujung Abad
|
Ada dua peristiwa kebahasaan penting yang melibatkan IALF. Yang
pertama adalah KIPBIPA (Konperensi Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia
bagi Penutur Asing) yang diselenggarakan di IKIP Bandung (11-13 Oktober
1999), dan Lokakarya Regional yang diselenggarakan sendiri oleh IALF
Bali tanggal 11 Desember 1999. Walaupun kedua peristiwa itu berbeda dalam
substansinya, keduanya memberikan indikasi bahwa permasalahan bahasa Indonesia
dalam perkembangannya makin banyak.
Pada konperensi di Bandung sejumlah pemakalah mempertanyakan permasalahan klasik, yakni dikotomi bahasa Indonesia baku dan non baku. Yang tidak kalah penting adalah perkembangan bahasa Indonesia di dalam dan luar negeri serta saingannya (rumpun bahasa Melayu seperti bahasa Malaysia, Brunei Darussalam dan bahasa Melayu sendiri). Di tingkat internasional bahasa Indonesia pada intinya bersaing dengan bahasa Cina yang memiliki potensi sangat besar sebagai bahasa kelas dunia setelah bahasa Inggris. Tak kurang dari dua ratus tujuh puluh lima peserta dari berbagai negara termasuk Inggris, Amerika Serikat, Rusia, Singapura, Thailand, Hong Kong dan Vietnam hadir pada Konperensi Bandung. Mereka membahas berbagai topik tentang linguistik, budaya, metode pengajaran, dan pengembangan bahan ajar. Satu hal yang menjadi tonggak perkembangan BIPA paska konperensi ini adalah terbentuknya Asosiasi Pengajar BIPA tingkat nasional. Pada konperensi tersebut juga diputuskan bahwa KIPBIPA IV akan diselenggarakan tahun 2001 di Bali. Hadir pada KIPBIPA Bandung ini beberapa tokoh penting yang menggeluti perkembangan bahasa Indonesia, antara lain: Chaedar Alwasilah, K M Jenson, Hasan Alwi, Yus Badudu, David Reeve, Karen Bailey dan lain-lain. Peristiwa BIPA kedua adalah Lokakarya Metodologi BIPA di Bali. Karena
memang sifatnya lokakarya, semua presentasi yang diberikan dalam peristiwa
BIPA ini adalah teknik pengajaran BIPA. Berbagai topik dan teknik pengajaran
disampaikan dan dipraktekkan dengan melibatkan peserta yang datang dari Pembicara tamu kedua adalah Prof. Dr. Sumarsono dari STKIP Singaraja yang rangkuman makalahnya dimuat dalam Buletin ini. Semua pemakalah pada sesi pleno di KIPBIPA Bandung maupun pada Loka karya BIPA Bali menekankan perlunya kerja keras serta koordinasi lintas lembaga dan lintas negara untuk mempertahankan serta mengembangkan BIPA secara utuh dan menyeluruh. |